blognya anak stikes

gabung dan dapatkan askep2 yang anda cari

Sabtu, 07 Januari 2012

Askep Gangguan Haid

ASKEP GANGGUAN MENSTRUASI
MAKALAH DISUSUN UNTUK MEMENUHI
TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS
 






Kelompok XI:
*      Sitti Hamidah Tatamailau
200802076
*      Yiska Rumaniowi
200802091
*      Natalia Siahaya
200802061


YAYASAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PAPUA (YPMP)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) PAPUA SORONG
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
OKTOBER 2010
GANGGUAN MENSTRUASI
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan.
A.     PMS (PRE MENSTRUASI SYNDROME)
1.       PENGERTIAN
PMS merupakan sejumlah perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari ke-2 sampai hari ke-4 sebelum menstruasi dan segera mereda setelah menstruasi selesai

2.       PENYEBAB
a.       Sekresi estrogen yang abnormal
b.      Kelebihan atau defisiensi progesterone
c.       Kelebihan atau defisiensi kortisol, sndrogen, atau prolaktin
d.      Kelebihan hormone anti dieresis
e.      Kelebihan atau defisiensi prostaglandin

3.       GEJALA
a.       Gejala psikologis yang khas, iritabilitas agresi, ketegangan, depresi, mood berubah-ubah, perasaan lepas kendali, emosi yang labil
b.      Rasa malas dan mudah lelah
c.       Nafsu makan meningkat, BB bertambah karena tubuh menyimpan air dalam jumlah yang banyak
d.      Gejala fisik yang sering adalah pembengkakan dan nyeri pada payudara, dismenorrhoe (kram perut), sakit kepala, sakit pinggang, pegal-pegal, pingsan
e.      Paling sering menyebabkan distress adalah gejala psikologis

4.       PATOFISIOLOGI
Penyebab sindrom premanstruasi ini belum diketahui sebabnya, tetapi beberapa teori menunjukkan adanya kelebihan estrogen atau deficit progesterone dalam fase luteal dari siklus menstruasi. Teori lain mengatakan bahwa hormone yang tidak teridentifikasi meyebabkan gejala pada waktu terjadi perubahan menstruasi. Teori lainnya menunjuk pada aktivitas betaendorfin, defisiensi serotonin, henti progesterone, retensi cairan, kenaikan kadar prolaktin, metabolism prostaglandin abnormal, dan gangguan aksis hipotalamik-pituitari-ovarium sebagai penyebabnya







5.       PENATALAKSANAAN
a.       Diet harian. Makan makanan dalam porsi kecil, batasi konsumsi gula, garam, alcohol, nikotin. Pemberian vitamin B6, Calsium, Magnesium. Melakukan olahraga dan aktivitas lainnya
b.      Obat.
·         Pil kontrasepsi oral atau progesterone misalnya medroksiprogesteron asetat
·         NSAID, misalnya aspirin, naproksen, indometasin, asam mefenamat
·         Progesterone, dengan injeksi

6.       ASUHAN KEPERAWATAN
a.       Pengkajian
Perawat harus menjalin hubungan saling percaya dengan pasien sambil mengumpulkan riwayat kesehatan, mencatat kapan gejala mulai dan sifat serta intensitasnya.
Perawat kemudian dapat menentukan apakah awitan gejala terjadi sebelum atau segera setelah aliran menstrual dimulai. Selain itu, perawat dapat menunjukkan pada pasien cara untuk mengembangkan pencatatan tentang waktu dan intensitas gejala. Untuk dapat bermanfaat, catatan harus dipertahankan selama sedikitnya tiga siklus.
Riwayat nutrisi juga dikumpulkan untuk menentukan apakah diet mengandung tinggi garam atau kafein atau diet nutrient esensial dan masukan alcohol
b.      Diagnose keperawatan
·         Ansietas berhubungan dengan efek PMS
·         Koping tidak efektif baik pada pasien maupun keluarga berhubungan dengan efek PMS
·         Kurang pengetahuan tentang penyebab dan penatalaksanaan


















B.      AMENORRHOE
1.       PENGERTIAN
Amenorrhea adalah suatu keadaan tidak adanya haid, selama 3 bulan atau lebih.
Amenorrhea adalah tidak ada atau terhentinya haid secara abnormal

2.       PENYEBAB
a.       Hymen imperforate, yaitu selaput dara tidak berlubang sehingga darah menstruasi terhambat untuk keluar. Keluhan pada kejadian ini biasanya mengeluh sakit perut tiap bulan. Hal ini bisa diatasi dengan operasi
b.      Menstruasi anovulatiore, yaitu rangsangan hormon-hormon yang tidak mencukupi untuk membentuk lapisan dinding rahim sehingga tidak terjadi haid/hanya sedikit. Pengobatannya dengan terapi hormone
c.       Amenorrhoe sekunder, yaitu biasanya pada wanita yang pernah menstruasi sebelumnya. Penyebab amenorrhoe sekunder ini karena hipotensi, anemia, infeksi atau kelemahan kondisi tubuh secara umum, stress psikologis.

3.       TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala yang muncul diantaranya:
a.       Tidak terjadi haid
b.      Produksi hormone estrogen dan progesterone menurun.
c.       Nyeri kepala
d.      Lemah badan

4.       PATOFISIOLOGI
Disfungsi hipofise. Terjadi gangguan pada hipofise anterior, gangguan dapat berupa tumor yang bersifat mendesak ataupun menghasilkan hormone yang membuat menjadi terganggu.
Kelainan kompartemen IV (lingkungan). Gangguan pada pasien ini disebabkan oleh gangguan mental yang secara tidak langsung menyebabkan terjadinya pelepasan neurotransmitter seperti serotonin yang dapat menghambat pelepasan gonadrotropin.
Kelainan ovarium dapat menyebabkan amenorrhea primer maupun sekuder. Amenorrhea primer mengalami kelainan perkembangan ovarium ( gonadal disgenesis ). Kegagalan ovarium premature dapat disebabkan kelainan genetic dengan peningkatan kematian folikel, dapat juga merupakan proses autoimun dimana folikel dihancurkan.
Melakukan kegiatan yang berlebih dapat menimbulkan amenorrhea dimana dibutuhkan kalori yang banyaksehingga cadangan kolesterol tubuh habis dan bahan untuk pembentukan hormone steroid seksual ( estrogen dan progesterone ) tidak tercukupi. Pada keadaaan tersebut juga terjadi pemecahan estrogen berlebih untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar dan terjadilah defisiensi estrogen dan progesterone yang memicu terjadinya amenorrhea. Pada keadaan latihan berlebih banyak dihasilkan endorphin yang merupakan derifat morfin. Endorphin menyebabkan penurunan GnRH sehingga estrogen dan progesterone menurun. Pada keadaan tress berlebih cortikotropin realizinghormone dilepaskan. Pada peningkatan CRH terjadi opoid yang dapat menekan pembentukan GnRH.
5.       KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah infertilitas. Komplikasi lainnya adalah tidak percaya dirinya penderita sehingga dapat mengganggu kompartemen IV dan terjadilah lingkaran setan terjadinya amenorrhea. Komplikasi lainnya muncul gejala-gejala lain akibat hormone seperti osteoporosis.

6.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada amenorrhea primer : apabila didapatkan adanya perkembangan seksual sekunder maka diperlukan pemeriksaan organ dalam reproduksi (indung telur, rahim, perekatan dalam rahim). Melalui pemeriksaan USG, histerosal Pingografi, histeroskopi dan Magnetic Resonance Imaging (MRI), apabila tidak didapatkan tanda-tanda perkembangan seksualitas sekunder maka diperlukan pemeriksaan kadar hormone FSH dan LH setelah kemungkinan kehamilan disingkirkan pada amenorrhea sekunder maka dapat dilakukan pemeriksaan Thyroid Stimulating Hormon (TSH) karena kadar hormone thyroid dapat mempengaruhi kadar hprmone prolaktin dalam tubuh.

7.       PENATALAKSANAAN
Pengelolaan pada pasien ini tergantung dari penyebab. Bila penyebab adalah kemungkinan genetic, prognosa kesembuhan buruk. Menurut beberapa penelitian dapat dilakukan terapi sulih hormone, namun fertilitas belum tentu dapat dipertahankan.
Terapi
Pengobatan yang dilakukan sesuai dengan penyebab dari amenorrhea yang dialami, apabila penyebabnya adalah obesitas maka diet dan olahraga adalah terapinya, belajar untuk mengatasi stress dan menurukan aktivitas fisik yang berlebih juga dapat membantu.
Pembedahan atau insisi dilakukan pada wanita yang mengalami Amenorrhea Primer.

8.       ASUHAN KEPERAWATAN
a.       Anamnesis
Anamnesis yang akurat berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan sejak kanak-kanak, termasuk tinggi badan dan usia saat pertama kali mengalami pertumbuhan payudara dan pertumbuhan rambut emaluan.
Dapatkan pula informasi anggota keluarga yang lain (ibu dan saudara wanita) mengenai usia mereka pada saat menstruasi pertama, informasi tentang banyaknya perdarahan, lama menstruasi dan periode menstruasi terakhir, juga perlu untuk ditanyakan.
Riwayat penyakit kronis yang pernah diderita, trauma, operasi, dan pengobatan juga penting untuk ditanyakan. Kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan seksual, penggunaan narkoba, olahraga, diet, situasi dirumah dan sekolah dan kelainan psikisnya juga penting untuk dianyakan.




b.      Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik yang pertama kali diperiksa adalah tanda-tanda vital dan juga termasuk tinggi badan, berat badan dan perkembangan seksual.
Pemeriksaan yang lain adalah:
·         Keadaan payudara
·         Keadaan rambut kemaluan dan genetalia eksternal
·         Keadaan vagina
·         Uterus : bila uterus membesar kehamilan bisa diperhitungkan
·         Servik : periksa lubang vagina

9.       DIAGNOSA KEPERAWATAN
·         Cemas berhubungan dengan krisis situasi
·         Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi yang didapat tentang penyakitnya (amenorrhea)
·         Gangguan konsep diri , harga diri rendah yang dihubungkan dngan ketidak normalan (amenorrhea primer)
·         Koping keluarga tidak efektif berhubungnan dengan komunikasi yang tidak ektif dalam keluarga.














C.      DISMENOREA

1.       PENGERTIAN
Dismenoroe adalah nyeri sewaktu haid. Biasanya terasa di perut bagian bawah. Nyeri tersebut dapat terasa sebelum haid, selama, dan sesudah haid. Dapat bersifat kolik atau terus-menerus, ini diduga karena adanya kontraksi uterus.
Dismenoroe dibedakan menjadi dua yaitu:
a.       Dismenorea Primer, yaitu menstruasi yang sangat nyeri, tanpa patologi pelvis yang dapat diidentifikasi. Dapat terjadi waktu menarche atau segera setelahnya. Dimenorea ditandai dengan nyeri kram yang dimulai segera atau setelah awitan aliran menstrual dan berlanjut selama 48 sampai 72 jam.
Dismenore diduga sebagai akibat dari pembentukkan prostaglandin yang berlebihan, yang menyebabkan uterus untuk berkontraksi secara berlebihan dan juga mengakibatkan vasospasme anteriolar. Factor-faktor –psikologi seperti anxiety dan ketegangan juga dapat menyebabkan dismenore. Dengan bertambahnya usia wanita, nyeri cenderung untuk menurun dan akhirnya hilang sama sekali setelah melahirkan anak.
b.      Dismenorea sekunder. Pada dismenorea sekunder terdapat patologi pelvis, seperti endometriosis, tumor, atau penyakit inflamatori pelvic (PID). Pasien dengan dismenore sekunder biasanya sering mengalami nyeri yang terjadi beberapa hari sebelum haid, disertai ovulasi dan kadangkala melakukan hubungan seksual

2.       PENYEBAB
a.       Dismenore primer
Banyak teori yang telah ditemukan untuk menerangkan penyebab terjadi dismenore primer, tapi meskipun demikian patofisiologisnya belum jelas.
Etiologi dismenore primer di antaranya yaitu:
·         Faktor psikologis
Biasanya terjadinya pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, mempunyai ambang nyeri yang rendah, sehingga dengan sedikit rangsangan nyeri, maka ia akan sangat merasa kesakitan. Seringkali segera setelah perkawinan dismenorea hilang, dan jarang sekali dismenorea menetap setelah melahirkan. Mungkin kedua keadaan tersebut (perkawinan dan melahirkan) membawa perubahan fisiologis pada genitalia maupun perubahan psikis.
·         Faktor endokrin
Pada umumnya nyeri haid ini dihubungkan dengan kontraksi uterus yang tidak bagus. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pengaruh hormonal. Peningkatan produksi prostaglandin akan menyebabkan terjadinya kontraksi uterus yang tidak terkoordinasi sehingga menimbulkan nyeri.

·         Alergi
Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan hubungan asosiasi antara dismenore dengan urtikaria, migren, asma bronchial, namun bagaimana pun belum dapat dibuktikan mekanismenya.
·         Faktor neurologis
Uterus dipersyarafi oleh sistem syaraf otonom yang terdiri dari syaraf simpatis dan parasimpatis. Jeffcoate mengemukakan bahwa dismenorea ditimbulkan oleh ketidakseimbangan pengendalian sistem syaraf otonom terhadap miometrium. Pada keadaan ini terjadi perangsangan yang berlebihan oleh syaraf simpatis sehingga serabut-serabut sirkuler pada istmus dan ostium uteri internum menjadi hipertonik.
·         Prostaglandin
Penelitian pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa prostaglandin memegang peranan penting dalam terjadinya dismenorea. Prostaglandin yang berperan disini yaitu prostaglandin E2 (PGE2) dan F2α (PGF2α). Pelepasan prostaglandin diinduksi oleh adanya lisis endometrium dan rusaknya membran sel akibat pelepasan lisosim.
Prostaglandin menyebabkan peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut syaraf terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar prostaglandin dan peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan tekanan intrauterus hingga 400 mmHg dan menyebabkan kontraksi miometrium yang hebat. Selanjutnya, kontraksi miometrium yang disebabkan oleh prostaglandin akan mengurangi aliran darah, sehingga terjadi iskemia sel-sel miometrium yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik. Jika prostaglandin dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka selain dismenorea timbul pula diare, mual, dan muntah.

b.      Dismenore sekunder
·         Faktor konstitusi seperti : anemia.
·         Faktor seperti obstruksi kanalis servikalis
·         Anomali uterus congenital
·         Leiomioma submukosa.
·         Endometriosis dan adenomiosis

3.       MANIFESTASI KLINIK
a.       Dismenorea Primer
Rasa nyeri di perut bagian bawah, menjalar ke daerah pinggang dan paha. Kadang-kadang disertai mual, muntah, diare, sakit kepala dan emosi yang labil. Nyeri timbul sebelum haid dan berangsur hilang setelah darah haid keluar
b.      Dismenorea Sekunder
·         Cenderung timbul setelah siklus 2 tahun teratur
·         Nyeri sering timbul terus menerus dan tumpul
·         Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bersamaaan dengan keluarnya darah




4.       KOMPLIKASI
·         Syok
·         Penurunan kesadaran

5.       PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi medis untuk klien dismenore di antaranya:
·         Pemberian obat analgetik.
·         Terapi hormonal
·         Terapi dengan obat nonsteriod antiprostagladin.
·         Dilatasi kanalis serviksalis
Dapat memberikan keringan karena memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin

6.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada klien dengan dismenore adalah:
a.       Tes laboratorium
·         Pemeriksaan darah lengkap : normal.
·         Urinalisis : normal
b.      Tes diagnostic tambahan
Laparaskopi : penyikapan atas adanya endomeriosi atau kelainan pelvis yang lain.

7.       ASUHAN KEPERAWATAN
a.       Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji pada klien dengan dismenore adalah Karakteristik nyeri dan gejala yang mengikutinya.
b.      Diagnose keperawatan
·         Nyeri yang berhubungan dengan meningkatnya kontraktilitas uterus, hipersensitivitas, dan saraf nyeri uterus.
·         Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan adanya mual, muntah.

1 komentar: